Cerpen : Toxic
Toxic
Aku terkejut ketika tak sengaja melihat namamu dinotifikasiku. Aku yang masih berusaha mengumpulkan nyawa sehabis bangun tidur tiba tiba dibuat kaget. Tidak sopan. Kamu mengirim sesuatu di akun outstagrammu. Sekali lagi, tidak sopan.
Kamu tidak sopan!
Pertama, karena mengirim sesuatu dipagi hari sekali. Kedua, bagaimana bisa kamu baru memposting sesuatu di akun outstagrammu setelah sekian lama kamu tidak aktif. Aku ingat sekali betapa dramanya kamu saat memutuskan untuk deactive kemudian menghilang tanpa kabar selama berbulan - bulan. Dan tanpa pemberitahuan, kamu tiba – tiba muncul.
Aku masih belum mengecek apa yang kamu kirim disana. Antara percaya atau tidak, aku masih bingung harus marah atau senang, atau keduanya. Aku tak tahu berapa banyak komentar yang akan kutinggalkan dikolom komentar postinganmu nantinya. Aku akan mengungkapkan semua yang kurasakan ketika kamu deactive. Rindu, sebal, kesal, tapi tidak bisa melakukan sesuatu....
Mengingat kembali alasanmu deactive beberapa waktu lalu, yang sebenarnya terlalu menyakitkan jika diingat. Ketika kamu berada dalam masa – masa sulitmu. Ketika kamu merasa serba salah dengan apa yang kamu lakukan. Tapi aku, selalu mendukung apa yang akan kamu lakukan dan mendukung semua keputusanmu. Aku mengingatkanmu betapa kamu berharga. Aku mengingatkanmu agar tetap kuat.
Bahkan saat itu aku membuat satu postingan khusus tentangmu, membahas segala sesuatu tentangmu, berusaha menguatkanmu... Meski pada akhirnya kamu tetap memutuskan untuk deactive dan menghilang. Aku merasa bersalah karena tidak bisa berbuat banyak selain menguatkanmu. Jika ada hal yang lebih berpengaruh bisa kulakukan, akan kulakukan. Maaf jika aku tidak bisa membantu dan tidak bisa melakukan apapun.
Aku menghela napas, menyiapkan mental. Berharap kamu sudah lebih baik dibanding terakhir kali. Aku tidak sabar melihat senyummu yang biasa kamu tunjukkan. Jariku tidak pernah mengklik seantusias ini sebelumnya. Tanganku selalu terbuka untuk menyambutmu...
Tapi apa yang kudapat bukanlah hal baik.
Aku merasa aku runtuh saat itu juga. Penantian selama berbulan – bulan itu hilang bahkan tidak sampai tiga detik, secepat otakku menerima apa yang mataku lihat... bahwa apa yang kamu posting benar – benar menyakitkan. Aku serius kali ini, kamu sangat tidak sopan. Lebih lebih tidak sopan.
Apa maksudmu memposting foto kamu dan seorang perempuan didepan altar. Apa maksudmu memakai pakaian seperti seseorang yang akan menikah. Apa – apaan perempuan itu, merangkul lenganmu dan memakai gaun. Ada apa dengan caption yang kamu tulis itu. Apa maksudnya, kenapa kalian terlihat seperti pasangan?!
Tidak sopan.
Inikah balasan meninggalkanku selama berbulan – bulan. Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya aku mencari kabar tentang kamu. Kamu tidak tahu berapa banyak portal berita yang aku cek setiap harinya hanya untuk mencari apakah ada sebaris tentangmu disana. Aku rela menambahkan berbagai fanaccount paling update dalam daftar followingku hanya untuk mencari kabar tentang kamu. Aku rela menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk menonton ulang video musik lamamu karena aku rindu...
Kamu tidak sopan!
Aku bahkan mendukungmu ketika kamu terlibat skandal dating bersama aktris itu, dan sekarang kamu menjadikannya seorang istri? Kamu tahu tidak mana yang lebih loyal? Aku rela menghabiskan uangku, hanya untuk bertemu kamu saat fanmeet dan mendengarkan lagu yang kamu buat. Aku adalah manusia yang paling mencintai kamu lebih dari apapun. Satu – satunya yang pantas kamu miliki adalah aku....
Bukan sebagai fans.
Kamu pernah menulis ‘ya’ dalam post it milikku saat kuminta kamu untuk menikah denganku. Kamu bahkan menggenggam tanganku, saat itu. Aku masih ingat kata – katamu jika aku selalu cantik ketika datang ke fansignmu. Aku masih ingat apa yang kamu katakan pada reporter dan variety show, bahwa semua lagu yang kamu ciptakan adalah untukku, fansmu.
Kenapa kamu begitu jahat, setelah semua yang kuberikan?
Yang paling menyedihkan saat ini adalah, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa membatalkan pernikahanmu atau melakukan sesuatu yang membuatmu berpikir bahwa aku adalah satu – satunya yang kamu cintai.
Bagaimanapun, aku hanya seorang fans.
Aku tidak lebih dari seorang fans. Kamu juga mengatakan ‘ya’ pada yang lain saat mereka meminta kamu menikahinya. Kamu juga menggenggam tangan mereka. Kamu juga berkata pada setiap gadis yang datang dengan pujian cantik. Kamu memperlakukanku sama dengan yang lain. Dan mereka juga merasakan apa yang kurasakan kini.
Bahwa takdir tidak adil. Bahwa takdir begitu menyakitkan.
Kenapa kamu harus menjadi idol? Kenapa kamu tidak menjadi orang biasa saja? Kenapa bukan aku yang kamu nikahi....
Pada akhirnya aku tidak bisa apa – apa. Supportku, loyalitasku, bukan apa – apa untukmu selain menjadi sumber penghasilanmu. Mencintai kamu begitu menyakitkan, sama menyakitkannya dengan mengiris tangan sendiri. Karena sejak awal, memutuskan untuk mencintaimu sama dengan menyiksa diri sendiri. Begitupun kamu. Seharusnya kamu tahu, bahwa saat kamu memilih menjadi seorang idol artinya kamu memberikan seluruh hidupmu pada fans. Kamu... mengabaikan sebab akibat dan menuruti egomu sendiri.
Aku memberikan segalanya, dan kamu mengkhianatinya.
Terimakasih.
Aku tahu jika memaki atau membencimu tidak akan merubah apapun. Mengirim death treat pada istrimu tidak akan membuatmu menceraikannya.
Tidak ada hubungan yang paling toxic di dunia ini selain hubungan fans dengan idol. Bahkan kamu tidak tahu namaku, tapi aku tetap mencintaimu. Pun saat kamu mengkhianatiku seperti ini.
-fin
A/N: ew... sounds emo n edgy, agak cheesy tapi ya... emg kenyataannya gini XD
Ngepost di hape emg gaena//cri susah ngeditnya tapi mo gimana, lepi q modar//cri
jadi monmaap ya banya eyd yg tida sesuai, sama tanda baca yg tida sesuai, sama kata kata yg harusnya di garis miring terus engga kegaris miringin...
Padahal pas ngetik dilaptop udah bener kok, heuheu
yasuda, makasi uda baca hehe
Komentar
Posting Komentar